Gereja katolik Miri
Puji ka Apai, ka Anak, ka Roh Kudus. Amin


Cathedral Notices   Tmn Tunku   Notis Katedral   Bintulu   主教座堂佈告   Log In

Biara Carmelite

Biara Carmelite




Ini adalah kegembiraan dan keistimewaan kami untuk berdoa untuk Gereja, dunia, para imam, dan bagi semua yang meminta doa kami. Untuk mengemukakan permintaan doa, isi borang kami atau melawat kami di biara kami dan Sisters akan membentangkan petisyen anda kepada Tuhan kami di Sakramen Mahakudus semasa Misa Kudus dan Pengujakan Ekaristi..




BIARA CARMELITE
Hati Kudus Yesus

Carmelite Monastery
of the sacred heart of Jesus
Jalan Temenggong Datuk Oyang Lawai
P.O. Box 392,
98008 Miri, Sarawak, Malaysia


Sisters Carmelite akan tidak tersedia dari 11.00 pagi hingga 2.30 p.m. setiap hari.

Biara Carmelite khas di Miri diasaskan oleh Sister Margarita pada tahun 1985 ..

Para biarawati hidup dalam lingkungan yang tertutup (tertutup) dan mengikuti kehidupan yang penuh kontemplatif. Para biarawati dibenarkan menghubungi keluarga duniawi mereka hanya sebulan sekali. Walaupun tidak dibenarkan keluar dari biara, mereka boleh dirawat secara perubatan ketika sangat diperlukan atau ketika peralatan tidak dapat dibawa ke biara.

Cara hidup ini adalah warisan rohani yang diturunkan kepada biarawati Carmelite oleh St Teresa dari Avila (1515 hingga 1582), seorang Sepanyol dan pengasas Orde Carmelite.

Para biarawati memimpin kehidupan yang sangat berdoa (dipandu oleh St Teresa dari Avila dan St John of the Cross). Gaya hidup hermit ini, yang dicontohi oleh Nabi Elijah dari zaman Gunung Karmel, terus diamalkan bahkan pada hari ini.

Setiap hari ditandai dengan berdiam diri untuk berdoa.


Sebagai tambahan kepada perayaan harian Liturgi penuh Jam, dua jam diketepikan untuk sembahyang senyap tanpa henti. Komuniti disimpan agak kecil.

Brosur dari biara menyatakan: "Biara Carmelite adalah saksi terbuka kepada realiti kehadiran dan kewujudan Tuhan, yang dalam dunia yang kini patah, sering ditolak. Ini adalah peringatan kepada dunia kesahihan nilai-nilai Injil.

"Di taman yang tersembunyi, keperluan, kegembiraan, luka dan kesedihan dunia dibawa sebelum takhta Tuhan setiap jam, terutama di Liturgi Suci."

Kegiatan-kegiatan ini, yang dikuduskan oleh cinta Tuhan, juga menjadi doa syafaat bagi Gereja dan seluruh dunia. Selepas Ritus Profesion mereka (untuk mengabdikan diri mereka kepada Perintah Suci), seperti semua biarawati Carmelite sebelum mereka akan menghabiskan seluruh hidup mereka di biara dan dikebumikan di dalam dindingnya apabila mereka mati. Selama bertahun-tahun, beberapa biarawati telah berlalu dan dikebumikan di dalam biara

Biara Carmelite telah berkhidmat kepada jemaah Miri dan sesiapa yang ingin berdoa untuknya. Ramai bukan Katolik juga melawat biara untuk solat dan bantuan khas.


Skapulir dan Kehidupan Berdoa. 

(The brown scapular of Our Lady of Mt. Carmel, yang berwarna coklat dan sering dihubungkan dengan sabbatine (Sabtu) Privilege,)



Skapulir (Ingris: Scapular) berasal dari bahasa latin: “scapula” yang berarti bahu. Skapulir ini awalnya berupa kain yang cukup lebar yang melintang di bahu. Pada awalnya, skapulir ini berasal dari kehidupan para rahib. Sama seperti yang memakai stola adalah seorang iman, maka seorang rahib ditandai dengan skapulir. Kemungkinan, pemakaian skapulir ini dapat ditelusuri mulai abad ke-7, dimana skapulir menjadi salah satu peraturan dari ordo benediktus. Dengan berkembangnya ordo-ordo, seperti ordo ketiga (third order) – yang terdiri dari kaum awam, maka skapulir ini juga berkembang, bukan hanya kain yang besar yang dikenakan oleh para rahib, namun skapulir yang cukup kecil, yang juga digunakan oleh kaum awam. Lebih lanjut, ordo Karmel berjasa dalam menyebarkan devosi skapulir (sekitar abad 13), yaitu dengan skapulir coklat atau “brown scapulir”. Ada begitu banyak jenis skapulir. Dan devosi ini mencapai puncaknya pada abad pertengahan, dimana skapulir dan rosario menjadi dua devosi kepada Bunda Maria.
Untuk mengenakan skapulir ini, tergantung dari jenis skapulirnya, setelah diberkati oleh pastor, maka dengan seseorang memakai skapulir, dia memakai simbol persaudaraan (membership in confraternity). Ada beberapa skapulir yang sering dipakai oleh umat Katolik, seperti:
1) The brown scapular of Our Lady of Mt. Carmel, yang berwarna coklat dan sering dihubungkan dengan sabbatine (Sabtu) Privilege,
2) The red scapular of Christ’s passion,
3) The black scapular of the seven sorrows of Mary,
4) The blue scapular of the Immaculate Conception,
5) The white scapular of the Holy Trinity. Dan ada juga scapular medal – yang mempunyai gambar hati kudus Yesus di satu sisi dan hati kudus Maria di sisi yang lain. Scapular medal ini disetujui oleh Vatikan pada tahun 1910.



Apakah manfaat dari skapulir ini?
Manfaatnya adalah tergabung dalam persaudaraan dari skapulir tersebut. Misalkan seseorang menggunakan skapulir coklat, maka dia tergabung dalam persaudaraan “our Lady of Mt. Carmel”. Dan Bunda Maria menjanjikan untuk orang-orang yang memakai skapulir sampai pada akhir hayatnya akan diselamatkan.
Namun satu prinsip yang harus kita pegang, benda-benda seperti rosario, skapulir adalah benda-benda sakramentali. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1667-1668 mengatakan:

1667: “Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan belbagai situasi hidup disucikan” (SC 60). (Bdk. CIC, can. 1166; CCEO, can. 867.)”

1668 “Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia. Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman. Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan.“

Dari dokumen di atas, kita melihat bahwa rahmat yang mengalir dari sakramentali tergantung dari disposisi hati yang memakai. Pada saat seseorang memakai skapulir dengan devosi dan disposisi hati yang baik, maka orang tersebut akan senantiasa diingatkan akan Bunda Maria dan Yesus, sebagai contoh: pada waktu orang tersebut melepaskan dan memakai skapukir, atau pada waktu-waktu tertentu, dia merasakan dan menyadari bahwa dia memakai skapulir. Jadi dalam satu hari, orang tersebut mempunyai kebiasaan untuk mengingat Yesus dan Bunda Maria. Dengan disposisi hati yang baik, maka rahmat Tuhan mengalir, sehingga dapat menyucikan berbagai situasi hidup. (lih KGK, 1667). Oleh karena itu, orang yang memakai skapulir, yang senantiasa diingatkan untuk menyucikan berbagai situasi hidup sampai akhir hayatnya, akan memperoleh keselamatan kekal.




Apakah orang yang memakai skapulir ini pasti masuk Surga? Tidak pasti, karena rahmat dari benda-benda sakramentali tergantung dari disposisi hati orang yang memakai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah berkat Allah semata, dengan melalui iman dalam Kristus Tuhan dan dimanifestasikan dengan ketaatan untuk mengikuti seluruh perintah Tuhan. Jadi orang yang memakai skapulir belum tentu diselamatkan, kalau tidak disertai dengan iman kepada Kristus dan melaksanakan seluruh perintah-Nya. Namun, dengan disposisi hati yang baik, seseorang yang memakai skapulir dapat mencapai kekudusan dan memperoleh keselamatan. Sebaliknya, orang yang tidak memakai skapulir, namun terus bertumbuh dalam iman dan sakramen dan melaksanakan perintah Kristus sampai akhir hayatnya, dia juga dapat diselamatkan.
Skapulir dapat dianalogikan seperti cincin pernikahan. Orang yang memakai cincin belum tentu telah menikah. Namun orang yang menikah dan memakai cincin kawin, dengan disposisi hati yang benar, dapat membantu untuk setia terhadap pasangan.




Apakah dasar alkitab dari skapulir?
Kita dapat menghubungkan dasar-dasar Alkitab tentang skapulir dengan dasar-dasar Alkitab untuk pengajaran tentang relikwi, seperti:

Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14). Di kitab yang sama, diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa, dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21).
Di dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian disembuhkan (Kis 5:15).
Pembahasan menyeluruh tentang hal ini, silakan membaca artikel “Relikwi, mengantar kita kepada Tuhan” (silakan klik).
Secara prinsip, Tuhan dapat menggunakan benda-benda, baik berupa relikwi yang berhubungan dengan santa dan santo, atau skapulir yang diberikan oleh Gereja, untuk mengantar umat pada kekudusan. Semua devosi ini harus mengalir dari disposisi hati yang baik, seperti semua persembahan yang bersifat ekterior mengalir dari disposisi hati yang benar.

Baca lebeh - https://dioceseofmiri.blogspot.com/2018/12/ajaran-scapular-dan-kehidupan-berdoa.html 

English Translation Version



The Carmelite Sisters will be unavailable from 11.00 a.m. till 2.30 p.m. everyday.

The special Carmelite Monastery in Miri was founded by Sister Margarita in 1985..

The nuns live in a cloistered (enclosed) environment and follow a completely contemplative life. The nuns are allowed contact with their earthly families only once a month. Although not allowed to come out of the monastery, they can be attended to medically when extremely necessary or when equipment cannot be brought into the monastery.

This way of life is the spiritual heritage handed down to the Carmelite nuns by St Teresa of Avila (1515 to 1582), a Spaniard and founder of the Carmelite Order.

The nuns lead a very prayerful life (guided by St Teresa of Avila and St John of the Cross). This hermitic lifestyle, exemplified by the Prophet Elijah from the time of Mount Carmel, continues to be practised even today.

Each day is marked by silence for prayers.

In addition to the daily celebration of the full Liturgy of the Hours, two hours are set aside for uninterrupted silent prayers. Communities are kept fairly small.
The leaflet from the monastery states: “The Carmelite Monastery is an open witness to the reality of the presence and the existence of God, which in today’s broken world, is often denied. It is a reminder to the world of the validity of Gospel values.

In the hidden garden, the needs, joys, wounds and sorrows of the world are carried before the throne of God hourly every day, especially in the Sacred Liturgy.”
These activities, sanctified by the love of God, have also become a prayer of intercession for the Church and the whole world. After their Rite of Profession (to consecrate themselves to the Holy Order),  like all the other Carmelite nuns before them will spend their whole life in the monastery and be buried within its walls upon their death. Over the years, a few nuns had passed on and were buried in the monastery grounds

The Carmelite Monastery has been serving the Miri congregation and anyone who desires to have prayers said for him or her. Many non-Catholics also visit the monastery for special prayers and help.


The Brown Scapular of Our Lady of Mount Carmel:
A Sign of Christian Faith & Commitment



The Brown Scapular is the part of the religious habit worn by Carmelites to signify their devotion to Our Lady of Mount Carmel, their trust in her, and their commitment to live like her. There is a simplified form as illustrated in the photo for those who do not wear the full Carmelite habit. There is also a Scapular in the form of a medal.

The word 'scapular' indicates a form of clothing which monks wore when they were working. With the passage of time people began to give symbolic meaning to it, such as the cross to be borne every day as disciples and followers of Christ. In some religious orders, such as the Carmelites, the Scapular turned into a sign of their way of life. The Brown Scapular came to symbolize the special dedication of Carmelites to Mary. The Brown Scapular is therefore a sign which stands for the decision to follow Jesus like Mary:

    open to God and to his will,
    guided by faith, hope and love,
    close to the needs of people,
    praying at all times,
    discovering God present in all that happens around us
    introduces people into the family of Carmel,
    points to a renewed hope of encountering God in eternal life with the help of Mary's protection and intercession ...

The Brown Scapular has been approved by the Church for over seven centuries.
The Scapular is not a magical charm to protect you or an automatic guarantee of salvation.


According to the Vatican's Congregation for Divine Worship, the Brown Scapular is "an external sign of the filial relationship established between the Blessed Virgin Mary, Mother and Queen of Mount Carmel, and the faithful who entrust themselves totally to her protection, who have recourse to her maternal intercession, who are mindful of the primacy of the spiritual life and the need for prayer."

Receive this Scapular (by any priest), a sign of your special relationship with Mary the Mother of Jesus, whom you pledge to imitate. May it be a reminder to you of your dignity as a Christian, in serving others and imitating Mary. Wear it as a sign of her protection and of belonging to the family of Carmel, voluntarily doing the will of God and devoting yourself to building a world true to his plan of community, justice and peace.

Enrollment of the Brown Scapular on the liturgical Feast Day of Our Lady of Mt. Carmel, 16th July. In its small form, it is widely popular within the Catholic Church as a religious article and has probably served as the prototype of all the other devotional scapulars.




Compiled by Ben Chang















Download Aplikasi mobile PERCUMA kami
Untuk sambungan langsung dengan kami di Diocese of Miri DOWNLOAD aplikasi percuma kami.